Seni Budaya

Bertempat tinggal dan menetap di Jerman tidak dapat menghentikan kecintaan kita kepada tanah air, termasuk seni budayanya. Justru keberadaan kita di negeri lain menjadi duta sekaligus alat untuk memperkenalkan seni dan budaya Indonesia kepada dunia. Tak lain bagi dua komunitas Indonesia yang bergerak di bidang seni ini. Selain menjadi wadah kreativitas dan talenta masyarakat Indonesia di Bonn, komunitas-komunitas ini dibentuk atas niat melestarikan kesenian Indonesia.

 

1. PESANGGRAHAN

 

 

Bermula dari kecintaannya terhadap seni tari dan musik, Siti Asiyah atau yang akrab disapa dengan panggilan Mbak Siti memiliki sebuah cita-cita sederhana; membangun suatu pusat kesenian dan paguyuban bagi masyarakat Indonesia di daerah sekitar tempat tinggal beliau. Berawal dari sebuah apartemen kecil di Aachen, kota tempat beliau dulu berdomisili, kemudian berlanjut di Bonn, Pasanggrahan kini menjadi suatu wadah berkumpulnya masyarakat Indonesia yang ingin bersama-sama berkarya lewat seni musik dan tari. Selain itu, Pasanggrahan juga membuka kesempatan bagi warga negara Jerman dan asing lainnya untuk mengenal lebih jauh kekayaan budaya dan kuliner Indonesia.

 

Setelah beberapa tahun terbentuk, Pasanggrahan resmi mendapatkan status sebagai e.V (eingetragener Verein atau dalam bahasa indonesia ‘asosiasi yang terdaftar resmi’) dari pemerintah Jerman pada tahun 2010. Setiap akhir tahun Pasanggrahan e.V memberi kesempatan bagi yang tertarik untuk mendaftar sebagai anggota tetap. Tidak hanya sebagai anggota, masyarakat luas juga dapat datang menyaksikan setiap kegiatan rutin Pasanggrahan.

 

Kontak Ibu Siti Asiyah
e-mail: s_asiyah_2000@yahoo.de
telepon: +491288-85036888.

 

2. BONNINDO

 

 

Adalah nama yang mungkin sudah tidak asing lagi di telinga para seniman dan penikmat musik di kota Bonn. Berawal dari Bang Sanusi, yang sekadar iseng bermain musik di Hofgarten, kemudian bertemu dengan Mbak Siti dan berkeinginan untuk membuat sebuah grup musik yang beraliran Melayu dan Dangdut dengan tujuan mengenalkan budaya Indonesia kepada masyarakat barat. Beranggotakan dua penyanyi, para pecinta musik beserta tiupan flute dan tabuhan gendang, menularkan keinginan untuk berjoged. Layaknya pedagang eropa yang sembari berdagang menyebarkan keyakinan mereka, para seniman ini pun bisa dibilang ikut andil dalam memperkenalkan budaya Indonesia melalui musik.

 

Pendiri:
1. Sanusi Debus
2. Siti Asiyah

 

Seniman:
Syamsir Alamsyah – Gitaris
Dony Kusumah – Bassis
Bambang Susiadi – Trommel
Andias Wira Alam – Bass Trommel
Harald Jungblut – Perkusi
Nana Langjahr – Penyanyi
Melanie – Flute
Fabiola Givenchia – Penyanyi

 

Acara :
1. Begegnungsfest (Mei – 2016)
2. “Abdiku” Köln (Mei – 2016)
3. Uni Köln (April – 2016)
4. Indonesischer Kultur Abend Megrapolis Bonn (Desember – 2016)
5. Brückenklang (Januari – 2017)

 

Kontak:
——